03 Desember 2007

SENYUM

Beberapa hari ini aku agak jengkel dengan anak pertamaku, Atika. Penyebabnya karena kelihatannya dia kalau disuruh ini itu koq kelihatan lamban sekali dan bersungut-sungut, tidak semangat. Mungkin itu karena dia saat ini terlalu banyak belajar dalam rangka menjalani test tengah semesternya yang berturut-turut selama 2 minggu.

Puncaknya tadi siang, aku agak marah karena sungut-sungut dan lambannya. Capai kerja dan merasa tidak ada rasa simpati, maka melayanglah sebuah tendangan. Aku tendang dia. Tapi itu tendangan yang nggak menyakitkan lho, cuma tendangan pura-pura di pantat. Tapi lalu aku lihat ada air mata di sudut matanya. Aku jadi menyesal...

Apa nilai rohaninya? Kelihatannya tidak rohani sama sekali.
Ada! Karena setelah itu ada suara dalam hati nuraniku. Pelan tapi terdengar jelas.
"Apakah Aku juga tidak berhak atas senyummu? Bukankah Aku juga telah berbuat yang terbaik bagimu? Mengapa sungut-sungut dan lamban tidak bergairah yang seringkali Aku dapatkan?"
Nah...
Aku jadi ingat kalau aku seringkali bersungut-sungut juga dalam menjalani hidup ini. Seringkali masalah kecil saja telah mengambil pergi senyumku. Seringkali aku mengeluh tentang ini itu. Seringkali aku ngomel....

Padahal penggalan doaku tadi pagi masih aku ingat dengan jelas, "Bapa, biarlah aku dapat melihat situasiku seperti Engkau melihatnya. Biarlah aku dapat melihat grand design-Mu dalam hidupku ini. Dalam pandanganku saat-saat ini mungkin adalah saat yang paling tidak mengenakkan. Tapi aku tahu bahwa kalau Kau ijinkan aku berada dalam keadaan ini, maka Kau punya rencana yang baik bagiku."

Dan malam ini, ketika aku menulis blog ini, suara yang sama terdengar lagi....
"Berbahagialah orang yang tidak melihat tapi percaya. Hiduplah bukan karena melihat, bukan karena merasakan, tapi karena iman kepada-Ku. Percayalah, rancangan-Ku adalah rancangan yang terbaik bagimu."

Aku juga masih ingat pagi tadi aku juga menggemakan lagi mazmur Daud:
"Engkau adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Engkau membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Engkau menyegarkan jiwaku. Engkau menuntunku di jalan yang benar.
Engkau menyediakan makananku di hadapan lawanku. Sekalipun aku berjalan lewat jalan yang kelam, aku tidak takut bahaya, karena tongkat-Mu dan gada-Mu itulah yang memimpin aku."


Bapa, terima kasih Engkau telah memberi pelajaran lewat anakku. Ampuni aku untuk sungut-sungut dan lamban tak bergairahku. Aku akan berusaha untuk lebih banyak tersenyum dalam hidupku. Aku percaya Kau akan memberi kekuatan yang baru bagiku dan juga kesegaran yang baru bagi tubuh, jiwa, dan rohku.
Bapa, Engkau layak, bahkan amat sangat layak menerima banyak senyumku!




Terima kasih Bapa, Kau telah buat segala sesuatu jadi baru bagiku,
iwan

Tidak ada komentar: